Studi: Stres Berat Benar-benar Sanggup MerusakJantung

image

Mungkin banyak orang berpikir bahwa stres hanya mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, padahal sebenarnya stres dapat mempengaruhi kesehatan seseorang secara menyeluruh. Hal ini dibuktikan oleh sebuah studi baru yang menemukan tingginya kasus gangguan jantung pada sejumlah veteran di AS yang menderita PTSD (post-traumatic stress disorder) dan korban Badai Katrina.

Menurut peneliti, bencana alam dan stres yang berkepanjangan akan meningkatkan hormon yang mempengaruhi tekanan darah, kadar gula darah serta faktor lain yang cenderung membuat jantung bermasalah. Kondisi tersebut juga kerap menimbulkan kemarahan dan ketidakberdayaan pada orang yang mengalaminya, termasuk memicu
perilaku yang membahayakan jantung seperti makan atau minum secara berlebihan.

Studi yang melibatkan 207.954 veteran yang tinggal di California dan Nevada berusia 46-74 tahun ini membandingkan antara partisipan yang mengidap PTSD dengan yang tidak.

Di awal studi seluruh partisipan tak mengidap penyakit jantung dan diabetes ketika peneliti mengecek rekam medis Veterans Administration mereka antara tahun 2009-2010. Dua tahun kemudian, seluruh partisipan dicek kembali kondisi kesehatannya. Hasilnya, 35 persen partisipan dengan PTSD mengalami resistensi insulin yang dapat berujung pada diabetes dan pengerasan pembuluh arteri. Sedangkan hanya 19 persen partisipan yang tidak memiliki PTSD yang juga mengalaminya. Tak hanya itu, peneliti juga melihat tingginya kasus sindrom metabolik (sekumpulan factor risiko penyakit jantung seperti lemak tubuh, kolesterol, tekanan darah dan kadar gula darah) pada partisipan. Diketahui 53 persen veteran
pengidap PTSD juga mengalami sindrom metabolik, padahal pada veteran yang tidak mengidap gangguan tersebut besarnya hanya 37 persen. “Tapi angka-angkanya hanyalah perkiraan dan tidaklah sepenting trennya. Yang penting adalah makin tinggi stresnya begitu juga dengan risiko masalah jantungnya. Dengan kata lain PTSD dapat
menyebabkan gejala gangguan fisik, tak hanya gangguan mental seperti yang selama ini dikaitkaitkan dengannya,” terang ketua tim peneliti Dr. Ramin Ebrahimi, dokter spesialis jantung di Greater Los Angeles VA Medical Center dan seorang profesor di UCLA. “Lagipula 20-30 tahun yang lalu PTSD hanya dikaitkan dengan veteran perang. Tapi sekarang kita harus menyadari bahwa PTSD merupakan gangguan yang bisa dialami siapapun, bahkan pada veteran yang tak pernah terjun ke medan perang tapi memiliki pengalaman traumatis seperti kehilangan salah seorang sahabatnya,” tambahnya seperti dilansir dari nbcnews, Rabu (13/3/2013).

Kondisi yang sama juga ditemukan pada orang-orang yang mengalami trauma lainnya seperti diperkosa, dirampok di bawah todongan senjata atau kecelakaan serius, termasuk korban Badai Katrina tahun 2005 yang melanda New Orleans.

Menurut keterangan tim dokter dari Tulane Medical Center, kasus serangan jantung yang terjadi di New Orleans tiga kali lebih tinggi daripada dua tahun sebelum bencana alam itu terjadi. Secara menyeluruh, kasus pasien baru yang masuk UGD akibat serangan jantung mencapai 2,4 persen dalam enam tahun pasca terjadinya bencana alam padahal pada tahun-tahun sebelumnya besarnya hanya 0,7 persen.

Peneliti juga menemukan pasien korban Katrina juga lebih cenderung menjadi pengangguran atau tak memiliki asuransi, merokok, depresi, mudah cemas serta memiliki kadar kolesterol tinggi.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s